Prabu 's posts with tag: anthorium
Dewasa ini banyak orang berbicara tentang anthorium yang harganya melangit, banyak orang yang latah ikut-ikutan nanem dan membeli dengan harga cukup tinggi sesuai dengan usia bunga itu. Semakin tua usianya semakin mahal harganya, karena memungkinkan sang pembeli dapat menjual hasil pembibitannya. Berbeda dengan yang masih kategori pembibitan dengan harga kisaran diatas Rp. 20.000,-
Saya mungkin termasuk yang latah, padahal awal-awalnya, waktu harganya masih tinggi, tidak ada minat untuk membelinya dan selalu mengkritisi teman-teman yang membeli dengan harga diatas seratus ribu rupiah, salah satu diantara teman-temanku adalah sudirboke, temenku ini termasuk orang yang tergila-gila pada bunga ini, apa sebab, saya juga tidak tahu, padahal dulu-dulunya tidak ada minat pada bunga sama sekali, menyirami bunga apalagi, sangat antipati, karena takut air, sehingga jarang mandi, maka dari itu saya terkejut ketika ia mulai membeli bunga anthurium, apa karena ia takut efek global warming? he..he...he... peace ach?! Sekarang ini ia tidak takut lagi sama air, karena menurutnya juga, bahwa didalam air itu, katanya ada hydrotheraphy, sehingga dapat mengubah seseorang dari kurang berdaya menjadi lebih berdaya dan menjadi sangat cerdas (harap sering-sering bersentuhan dengan air ya?).
Saya sebagi pelaku yang latah membeli gelcin, terhenyak karena pada saat jalan-jalan, saya kok sempat membeli 2 bibit gelcin @ Rp. 25.000,- padahal awalnya kurang berminat sama sekali untuk menanamnya. Sepanjang jalan saya berpikiran akan diapakankah nanti setibanya dirumah?
4 hari setelah pembelian bunga gelcin, saya bareng Mr. Sudirboke, membeli pupuk anthorium ukuran 5 Kg di halaman parkir (plasa) Carefour Gatsu, malah dibayarin. Setiba di rumah, saya turunkan pupuk tersebut dari motorku, kemudian saya letakkan dekat dapur, lalu mengamati gelcin di tembok belakang rumah, sambil berpikiran besok pulang kerja, beli pot yang bagus agar gelcin menjadi lebih mahal.
Setelah shalat subuh, saya memindahkan pupuk kedekat dinding hias (berornamen air terjun), maksud hati mengamati bunga gelcinku ternyata...., pucuk dicinta ulatpun tiba, gelcinku pucuknya ilang semuaaaaa.....hik..hik..hik...  akibat dimakan ulat sebesar telunjukku.... Opik, sang ajudan berlari-lari kearahku karena aku teriak-teriak memanggil namanya dan menyuruh dia tuk melihat apa yang terjadi, terbelalak ia saat melihat tinggal tangkainya saja, sambil berujar padahal daunnya semalam masih banyak...cepet banget ya mas ngabisinnya...lalu ia mengambil kayu kecil dan mendorong-dorong ulat yang menghabisi pucuk cintaku, kekolom ikan dibawahnya, ikan-ikanku berebut memperebutkan ulat seharga lima puluh ribu rupiah, ulat itu menurut informasi termasuk jenis Tukul Arwana yang katanya pemakan urap gelcin .
Akhirnya tak perlu dipungkiri, jika Allah SWT telah berkehendak apapun yang terjadi ya terjadilah. Tak perlu harus disesali, sambil menghibur diri sendiri, aku menikmati akibat kelatahanku.
Sampai sekolah aku ceritakan kebeberapa temanku, termasuk Mr. Sudirboke, serta untuk intermezo dikelas, maksudnya sich menghibur hati, agar tidak apriori akan kehilangan sesuatu, meskipun itu yang sangat dicintai.
| |